
Hari ini gue terbangun degan kepala puyeng dan mata engga enak. Ngerasain sesuatu yang berbeda, gue langsung ngelocat dari atas tempat tidur gue ke depan kaca yang tergantung persis di depan jendela. Pas bayangan gue muncul.. oh, shit! Tepi mata kanan gue merah kayak abis mabok semalem. Good..this is the good news from this morning. Red eyes horror.
Kaki gue otomatis ngelangkah balik ke kasur. Melemaskan otot jadi alasan buat kembali bermalas-malasan sebentar sebelom ke kantor. Mata kanan gue terasa kayak ditusuk sesuatu. Gue pejamin keduanya (kiri dan kanan maksudnya)..diam mendengarkan suara angin dari balik jendela dan mencoba mengenang mimpi semalam.

Entah apa yang membuat gue mimpiin hal kayak begitu. Apa karena uda kebelet pengen nonton The Hulk? Kayaknya engga ada hubungannya tuh. Jauh dari body besar yang bikin ilfil, gue mimpiin sesuatu yang lebih seksi dan menarik. Lebih basah. Lebih menantang. Lebih mendesah. hei..jangan horny diseberang sana. Huehehe..
Ia berdiri disana. Sendiri. DItepi kamar mandi. Handuk mengalung di lehernya. Tapi gue tetep heran..kenapa mimpi ini memilih berlokasikan di tepi kamar mandi. Kenapa engga disuatu tampat yang lebih romantis. Ato lebih manis. Dunno lah..
Gue menghampiri dia. Gue cium bibirnya. Pada detik-detik awal ia terkejut dan menolak. Tapi gue menang cepat. Gue cium ia lebih dalam. Detik kedua, ketiga dan keempat ia tidak lagi menolak. Detik keenam ia mengalungkan tangannya di leher gue. Gue lirik wajahnya sebentar. Ia menutup kedua matanya. Mungkin itu detik ke sembilan..
Detik kesepuluh gue melepaskan ciuman gue dari bibirnya. Detik kesebelas ia menunduk malu. Ah..manisnya. Lima detik kedepan gue tatap wajahnya yang merona merah. Gue rangkul dan gue peluk lebih erat..
Tiga detik kemudian gue terbangun.
Oh, shit!
Jam tangan rolek yang gue pake buat menghitung detik tadi ternyata juga cuman mimpi.